Transformasi Vokasi: Siswa SMK Ciptakan Sistem Irigasi Cerdas Berbasis IoT untuk Bantu Petani Lokal

Siswa SMK Mengembangkan Perangkat IoT Laboratorium

SEMARANG — Semangat inovasi di kalangan pelajar vokasi kembali membuahkan hasil nyata. Sekelompok siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Teknik Komputer dan Jaringan berhasil merancang prototipe sistem irigasi otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang ditujukan langsung untuk membantu efisiensi penggunaan air para petani sayuran hortikultura.

Proyek yang dikembangkan selama kurang lebih tiga bulan di laboratorium sekolah ini memadukan sensor kelembapan tanah, modul mikrokontroler hemat daya, dan katup solenoid elektrik. Sistem ini bekerja secara otomatis menyiram tanaman hanya saat kelembapan tanah berada di bawah ambang batas yang ditentukan, sehingga mencegah pemborosan air dan risiko akar membusuk.

Cara Kerja dan Efisiensi di Lapangan

Dalam uji coba lapangan seluas 500 meter persegi di lahan pertanian mitra, perangkat ini terbukti mampu memangkas konsumsi air irigasi hingga 30 persen dibandingkan metode penyiraman manual konvensional.

Ketua tim pengembang, Aditya Pratama, menjelaskan bahwa seluruh data parameter lingkungan dikirimkan langsung ke peladen (server) cloud secara berkala melalui koneksi nirkabel.

“Petani tidak perlu lagi berjaga setiap pagi dan sore di ladang hanya untuk memutar kran air. Melalui dasbor web di ponsel pintar, mereka bisa memantau kelembapan tanah, suhu udara, serta mengontrol sakelar pompa dari jarak jauh kapan saja,” ungkap Aditya saat demonstrasi produk, Jumat.

Dukungan Industri dan Rencana Hilirisasi

Inovasi ini mendapat apresiasi positif dari dinas pertanian setempat serta asosiasi industri teknologi. Guru pembimbing proyek menyebutkan bahwa langkah berikutnya adalah mengemas sirkuit ke dalam kotak kedap air berstandar industri (IP65) dan melengkapinya dengan panel surya mandiri agar dapat dipasang di area persawahan yang belum terjangkau aliran listrik PLN.

Diharapkan, produk karya anak bangsa ini dapat diproduksi secara massal dengan biaya terjangkau sehingga dapat diadopsi luas oleh kelompok tani di berbagai daerah.