Tangis dan Doa Iringi Pemakaman H. Fathan Subkhi, KH. Munif Zuhri: Tugasmu Memperjuangkan Warna NU di Dunia Telah Selesai
DEMAK – Prosesi pemakaman H. Fathan Subkhi berlangsung khidmat dan penuh haru pada Jumat (30/10/2026). Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum terlebih dahulu dishalatkan, kemudian dilanjutkan dengan upacara pemakaman yang dimulai sekitar pukul 09.50 WIB. Dalam kesempatan tersebut, KH. Munif Zuhri, Pengasuh Pondok Pesantren Girikusumo, Mranggen, Demak, menyampaikan sambutan yang sarat dengan doa, kenangan, dan ungkapan kehilangan atas wafatnya sosok yang dikenal memiliki kedekatan dengan kalangan Nahdlatul Ulama (NU) tersebut. KH. Munif Zuhri mengenang H. Fathan Subkhi sebagai pribadi yang memiliki semangat besar dalam perjuangan politik, khususnya dalam memperjuangkan kepentingan konstituen dan warga Nahdliyin. Almarhum pernah mengemban sejumlah amanah strategis, di antaranya sebagai Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Wakil Sekretaris PKB DPR RI, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta aktif dalam organisasi IPPNU dan pernah menjabat Ketua Umum PB IKA PMII. Menurut KH. Munif, dalam menjalankan aktivitas politik dan pengabdiannya, almarhum senantiasa berupaya menjaga prinsip tawazzun (keseimbangan) dan tawassuth (moderat). Prinsip tersebut tercermin dalam sikap dan cara almarhum menempatkan diri di tengah kehidupan organisasi, masyarakat, maupun dunia politik. Lebih dari perjalanan karier dan jabatan yang pernah diemban, KH. Munif mengenang almarhum sebagai pribadi yang tawadhu, taat, dan sangat menghormati para guru. Setiap kali menerima nasihat kebaikan dari guru-gurunya, almarhum selalu merespons dengan penuh takzim (ta'dhim). Almarhum juga dikenal tidak suka membicarakan keburukan orang lain. Dalam kehidupan keluarga dan pergaulan sosial, ia dikenal sebagai sosok yang baik, ramah, dan ceria. Bahkan, menurut KH. Munif, jarang sekali dijumpai almarhum menunjukkan kesedihan di hadapan orang-orang di sekitarnya. Dalam suasana haru, KH. Munif menyampaikan kalimat perpisahan yang menggambarkan kedekatan emosional sekaligus penghormatan mendalam kepada almarhum. "Wahai sahabatku, saudaraku, sekaligus anakku, Ananda Fathan Subkhi, selamat jalan. Tugasmu memperjuangkan warna NU di dunia sudah selesai." Ungkapan tersebut menjadi salah satu bagian paling mengharukan dalam prosesi pemakaman. Bagi KH. Munif, kepergian almarhum bukan sekadar kehilangan seorang sahabat dan kader, melainkan juga kehilangan pribadi yang selama ini berusaha menjaga nilai-nilai kesantrian, menghormati guru, serta mengabdikan diri untuk NU dan masyarakat. Ia juga mengungkapkan bahwa ada doa yang tidak mampu ditampung oleh kata-kata. Dalam keadaan demikian, air mata menjadi saksi atas kesedihan dan ketulusan melepas kepergian seseorang yang dicintai. "Kami melepasmu dengan doa dan cinta. Sepanjang yang kami kenali, kamu adalah seorang santri yang selalu berusaha menaati dan menghormati para guru." Kepergian H. Fathan Subkhi meninggalkan kenangan tentang perjalanan pengabdian, perjuangan organisasi, dan keteladanan pribadi. Di antara jabatan dan amanah yang pernah diembannya, sikap tawadhu, penghormatan kepada guru, serta komitmennya memperjuangkan kepentingan warga Nahdliyin menjadi bagian dari kenangan yang terus hidup di hati orang-orang yang mengenalnya. (Jukari)
