Fathan Subchi: Dari Demak Mengabdi untuk Negeri, Berpulang ke Makam Kasepuhan Girikusumo
DEMAK – Perjalanan hidup H. Fathan Subchi merupakan kisah tentang perjuangan, pendidikan, pengabdian, dan khidmah kepada Nahdlatul Ulama (NU). Lahir dari keluarga sederhana di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Fathan menapaki perjalanan panjang hingga dipercaya menjadi Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia. Namun, perjalanan pengabdiannya berakhir di Moskow, Rusia, ketika sedang menjalankan tugas pemeriksaan keuangan negara.
Pada Jumat, 30 Oktober 2026, jenazah Fathan Subchi akhirnya dimakamkan di Makam Kasepuhan Pondok Pesantren Girikusumo, Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Ia kembali ke tanah kelahirannya, tempat perjalanan hidupnya dahulu bermula.
Pemakaman di kompleks makam kasepuhan pesantren tersebut menjadi penutup perjalanan seorang tokoh yang selama hidupnya mengabdikan diri dalam berbagai bidang, mulai dari organisasi mahasiswa, NU, politik, hingga lembaga negara.
Berangkat dari Keluarga Sederhana
Fathan Subchi lahir di Demak pada 11 Februari 1970. Masa kecil dan pendidikan dasarnya dijalani di daerah kelahirannya. Ia menempuh pendidikan di MI Miftahul Falah, kemudian melanjutkan ke MTs Sunan Kalijaga di Demak.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama, Fathan melanjutkan pendidikan di Pendidikan Guru Agama (PGA) Salatiga dan lulus pada 1988. Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut ke Institut Agama Islam Al-Aqidah Jakarta hingga memperoleh gelar sarjana pada 2001.
Perjalanan pendidikan Fathan bukan tanpa hambatan. Dalam kenangan Menteri Muhaimin Iskandar saat prosesi pemakamannya, terungkap bahwa Fathan pernah menghadapi kesulitan ekonomi ketika masih kuliah. Bahkan, pada semester kedua di IAIN, ia harus berhenti sementara karena keterbatasan biaya keluarga.
Ayahnya hanya seorang guru dengan penghasilan yang terbatas. Namun, keadaan tersebut tidak memadamkan cita-citanya. Fathan terus berusaha meningkatkan pendidikan, belajar, dan memanfaatkan kesempatan beasiswa untuk melanjutkan perjalanan akademiknya.
Ketekunan tersebut mengantarkannya menempuh pendidikan magister di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta, dan melanjutkan pendidikan doktoral. Perjalanan akademiknya menjadi salah satu gambaran bagaimana keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.
Menapaki Jalan Pergerakan dan Perjuangan NU
Dunia organisasi menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Fathan. Sejak muda, ia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Organisasi tersebut menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, intelektualitas, dan pengabdiannya kepada masyarakat.
Dalam perjalanan organisasi, Fathan pernah dipercaya menjadi Ketua Pengurus Cabang PMII DKI Jakarta periode 1995–1996 dan Ketua Pengurus Besar PMII pada periode 1997–1998.
Pengalaman organisasi tersebut kemudian menjadi fondasi kiprahnya di lingkungan alumni PMII. Ia pernah memimpin PW IKA PMII DKI Jakarta dan selanjutnya dipercaya menjadi Ketua Umum PB IKA PMII periode 2025–2030.
Kiprahnya tidak berhenti di PMII. Fathan juga aktif dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, khususnya bidang perekonomian dan pemberdayaan umat. Ia pernah menjadi Direktur Induk Koperasi Syirkah Muawanah NU pada 2005–2012 serta terlibat dalam Lembaga Perekonomian NU.
Bagi Fathan, organisasi bukan sekadar tempat memperoleh jabatan, melainkan ruang untuk membangun jaringan pengabdian dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Sepuluh Tahun di Parlemen
Perjalanan Fathan kemudian memasuki dunia politik melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia dua kali memperoleh kepercayaan masyarakat untuk menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah II, yakni periode 2014–2019 dan 2019–2024.
Selama berada di parlemen, Fathan pernah menjadi anggota Komisi XI DPR RI, kemudian dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi XI dan Sekretaris Fraksi PKB DPR RI.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan kebijakan ekonomi, keuangan negara, perbankan, dan pembangunan. Komisi XI merupakan salah satu komisi strategis yang membidangi persoalan keuangan dan perekonomian nasional.
Sebelum menjadi anggota DPR RI, Fathan juga pernah mengemban amanah sebagai Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI pada 2013–2014.
Sepuluh tahun pengabdiannya di parlemen menjadi bekal penting ketika kemudian ia dipercaya mengemban tugas di lembaga pemeriksa keuangan negara.
Mengemban Amanah sebagai Anggota VI BPK RI
Pada 17 Oktober 2024, Fathan Subchi resmi dilantik sebagai Anggota VI BPK RI untuk masa jabatan 2024–2029.
Penunjukan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya. Setelah satu dekade berkecimpung dalam dunia legislasi, ia memperoleh amanah untuk ikut menjaga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.
Sebagai Anggota VI BPK, lingkup tugasnya mencakup pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara pada sejumlah kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, BPJS Kesehatan, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Wilayah pemeriksaan keuangan daerah yang menjadi lingkup tugasnya juga mencakup Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah Warta Pemeriksa BPK, Fathan pernah menegaskan bahwa motivasinya mengemban amanah di BPK berangkat dari komitmen memperkuat transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Pengalaman sepuluh tahun di Komisi XI DPR menjadi salah satu bekal untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.
Berpulang ketika Menjalankan Tugas
Minggu, 25 Oktober 2026, menjadi hari duka bagi keluarga, sahabat, dan seluruh kolega Fathan Subchi. Anggota VI BPK RI tersebut meninggal dunia ketika sedang menjalankan tugas pemeriksaan di Moskow, Rusia, dalam usia 56 tahun.
Kabar kepergiannya disampaikan secara resmi oleh BPK RI. Lembaga tersebut menyampaikan penghormatan atas pengabdian almarhum selama menjalankan amanah sebagai anggota BPK.
Jenazah kemudian dipulangkan ke Indonesia melalui perjalanan dari Moskow, transit di Istanbul, Turki, sebelum tiba di Jakarta. Setelah disemayamkan dan dishalatkan, jenazah dibawa ke Demak untuk dimakamkan di kompleks Makam Kasepuhan Pondok Pesantren Girikusumo.
Pada Jumat, 30 Oktober 2026, keluarga, sahabat, tokoh NU, kalangan PMII, dan masyarakat mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Kembali ke Tanah Kelahiran
Pemakaman Fathan Subchi di Makam Kasepuhan Girikusumo memiliki makna tersendiri. Ia kembali ke Demak, daerah yang menjadi saksi awal kehidupannya, setelah melewati perjalanan panjang pengabdian di tingkat nasional.
Dalam sambutan pemakaman, KH. Munif Zuhri, Pengasuh Pondok Pesantren Girikusumo, mengenang Fathan sebagai pribadi yang tawadhu, taat, dan menghormati guru. Ia juga mengingat almarhum sebagai sosok yang menjaga prinsip tawazzun dan tawassuth dalam kehidupan politik dan organisasinya.
Sementara itu, Menteri Muhaimin Iskandar mengenang Fathan sebagai pekerja keras yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat kecil. Perjalanan hidupnya dari keluarga sederhana hingga menduduki jabatan strategis di lembaga negara menjadi kenangan tersendiri bagi sahabat-sahabatnya.
Di tengah suasana duka, KH. Munif Zuhri menyampaikan kalimat perpisahan yang menyentuh:
"Wahai sahabatku, saudaraku, sekaligus anakku, Ananda Fathan Subchi, selamat jalan. Tugasmu memperjuangkan warna NU di dunia sudah selesai."
Kalimat tersebut seolah menjadi rangkuman perjalanan panjang seorang kader yang tumbuh dalam tradisi pesantren dan pergerakan, kemudian mengabdikan hidupnya melalui organisasi, politik, dan lembaga negara.
Kini, Fathan Subchi telah berpulang. Jabatan sebagai anggota BPK, perjalanan sepuluh tahun di DPR RI, serta berbagai amanah organisasi yang pernah diembannya menjadi bagian dari rekam jejak pengabdiannya.
Ia meninggalkan keluarga, sahabat, dan keluarga besar NU serta PMII. Namun, kisah perjuangan seorang anak Demak yang berangkat dari keterbatasan, menempuh pendidikan, dan mengabdikan diri untuk negeri akan tetap menjadi bagian dari kenangan orang-orang yang mengenalnya.
Dari Demak ia memulai perjalanan, di tingkat nasional ia mengabdikan diri, dan di Makam Kasepuhan Girikusumo ia akhirnya kembali.
