Dari Anak Guru yang Nyaris Putus Kuliah hingga Mengabdi untuk Negeri, Muhaimin Iskandar Kenang Perjuangan H. Fathan Subkhi
DEMAK – Tidak semua orang yang mengemban jabatan tinggi lahir dari kehidupan yang berkecukupan. Sebagian justru tumbuh dari keterbatasan, melewati jalan panjang perjuangan, dan menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan untuk terus berjuang. Begitulah perjalanan hidup H. Fathan Subkhi, sosok yang kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), sahabat, dan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Dalam prosesi pemakaman pada Jumat (30/10/2026), Menteri Muhaimin Iskandar menyampaikan sambutan perpisahan yang bukan sekadar ungkapan kehilangan. Ia membuka kembali lembaran perjalanan hidup seorang sahabat yang dikenalnya sejak masih menjadi mahasiswa.
"Selamat jalan, Saudara Fathan Subkhi. Insyaallah bihusnil khatimah," ucap Muhaimin mengawali sambutannya.
Dengan nada haru, Muhaimin mengungkapkan keyakinannya bahwa almarhum meninggal dalam keadaan baik. Menurutnya, Fathan wafat ketika sedang menjalankan tugas di Moskow (R
usia). Sebuah pengabdian yang, bagi Muhaimin, menjadi bagian dari perjalanan panjang hidup almarhum dalam bekerja dan mengabdi.
"Saya bersaksi, beliau adalah orang yang pekerja keras. Membantu mereka yang lemah sudah menjadi bagian dari jiwanya," ungkap Muhaimin.
Berangkat dari Keterbatasan, Mengejar Cita-Cita
Di balik perjalanan pengabdian dan berbagai jabatan yang pernah diembannya, Fathan Subkhi menyimpan kisah masa muda yang tidak mudah. Muhaimin mengenang bagaimana almarhum tumbuh dari keluarga sederhana dengan keterbatasan ekonomi.
Ia mengetahui bahwa Fathan pernah menghadapi kenyataan pahit ketika menempuh pendidikan di IAIN. Memasuki semester kedua, Fathan harus meninggalkan bangku kuliah karena keluarganya tidak mampu membiayai pendidikannya.
Ayahnya hanya seorang guru berstatus PNS, dengan penghasilan yang saat itu belum mencukupi kebutuhan keluarga. Situasi ekonomi keluarga menjadi tantangan besar bagi Fathan untuk melanjutkan pendidikan dan mewujudkan cita-citanya. Muhaimin juga mengenang cerita tentang kondisi keluarga Fathan yang mulai membaik setelah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menaikkan gaji pegawai negeri sipil. Perubahan tersebut turut memberikan ruang bagi keluarga untuk memperbaiki kehidupan.
Namun, keterbatasan tidak membuat Fathan menyerah. Ia terus mengejar cita-cita melalui pendidikan, belajar, dan kesempatan beasiswa. Perjalanan panjang itu kemudian mengantarkannya pada pengabdian di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dari seorang anak guru yang pernah terpaksa meninggalkan bangku kuliah karena persoalan biaya, Fathan tumbuh menjadi sosok yang mampu mengemban amanah di lembaga negara.
Pejuang NU yang Mengabdikan Diri
Bagi Muhaimin, perjalanan Fathan bukan hanya kisah tentang keberhasilan pribadi. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan seorang kader yang tumbuh bersama tradisi perjuangan Nahdlatul Ulama.
"Saya kenal beliau sejak masih mahasiswa. Pak Fathan adalah pejuang NU," kenangnya.
Keterlibatan Fathan dalam organisasi menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Ia pernah menjadi Ketua Umum PB IKA PMII dan mengemban amanah sebagai anggota BPK. Dalam perjalanan politik dan organisasinya, almarhum dikenal memiliki perhatian terhadap masyarakat kecil dan kelompok yang membutuhkan pertolongan.
Bagi Muhaimin, kepedulian terhadap orang-orang lemah bukan sekadar sikap yang ditampilkan di hadapan publik, melainkan karakter yang telah melekat dalam diri Fathan sejak lama.
Kerja keras, ketekunan mengejar pendidikan, dan kesediaan membantu sesama menjadi benang merah yang menghubungkan masa mudanya dengan perjalanan pengabdiannya.
Perpisahan dengan Doa
Kini, perjalanan panjang itu telah sampai pada penghujungnya. Sosok yang dahulu berjuang menghadapi keterbatasan, mengejar pendidikan, berkhidmah di organisasi, dan mengemban amanah negara telah berpulang.
Di hadapan keluarga, sahabat, dan para pelayat, Muhaimin menyampaikan doa agar almarhum diterima di sisi Allah SWT dalam keadaan suci dan memperoleh akhir kehidupan yang baik.
"Terimalah dia dalam keadaan suci kembali," demikian doa yang disampaikan Muhaimin.
Kematian memang mengakhiri perjalanan seseorang di dunia, tetapi tidak serta-merta menghapus jejak pengabdiannya. Kisah Fathan Subkhi mengingatkan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari cita-cita, dan jabatan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang.
Ada perjuangan yang patut dikenang, ada kepedulian yang terus diwariskan, dan ada persahabatan yang bahkan tidak selesai oleh kematian.
Selamat jalan, H. Fathan Subkhi. Semoga Allah menerima seluruh amal pengabdianmu, mengampuni segala khilaf, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.
